HOME  PROFIL  PRODUK  BERITA  KONSULTASI
  Jam Analog
  Berita
  
  Judul :
Mahasiswa dari Seleksi Nilai Raport Lebih Berprestasi
  Isi Singkat :

Perguruan tinggi negeri (PTN) rata-rata menyediakan 30 persen kuota untuk mahasiswa baru dari jalur seleksi nilai raport. Mahasiswa dari jalur ini dinilai lebih baik prestasinya dari mahasiswa dari jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri atau SNMPTN.



_____________________
  Judul :
Tiga Mahasiwa Teknik Indonesia Raih Penghargaan di Jerman
  Isi Singkat :

Perusahaan Jerman, Daimler AG, yang terkenal dengan mobil mewahnya Mercedez Benz dan UNESCO menganugerahkan penghargaan Mondialogo Engineering Award kepada tiga orang mahasiswa teknik Indonesia berprestasi. Mereka terpilih diantara 60 mahasiswa dari 28 negara yang terbagi dalam 30 proyek di bidang pembangunan, pengentasan kemiskinan dan lingkungan dalam siaran pers yang diterima redaksi Republika Online, Kamis



_____________________
  Judul :
Pemprov Jateng Kembangkan Sekolah Kejuruan
  Isi Singkat :

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bertekad terus mengembangkan sekolah kejuruan, karena dinilai memberikan nilai tambah yang besar kepada anak didik. Sekolah kejuruan juga membuka peluang terciptanya pemberdayaan masyarakat pedesaan, melalui kualitas ilmu yang dimiliki siswa.



_____________________
   LINK
  Artikel
  Pencarian
  Search:
  
  
 
DETAIL ARTIKEL

 
PILIH SMA atau SMK???
 

Siswa SMK dipersiapkan untuk siap kerja setelah lulus sekolah.

Niko, seorang siswa sekolah menengah, merasa lebih 'berguna' jika dia bersekolah di sekolah kejuruan. Menurutnya, dengan sekolah di sana dia bisa segera bekerja. Ia lantas memilih jurusan yang menurutnya lebih gampang untuk mencari kerja, yaitu Teknik Listrik dan Teknik Elektro. ''Kalau harus kuliah, mahal,'' ujar Niko yang akhirnya bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Yogyakarta, Fahriza, siswi kelas II Administrasi Perkantoran SMKN 25 Jakarta, juga melontarkan hal senada. Ia mengaku ingin lekas bekerja selepas lulus SMK. ''Meskipun nanti keinginan itu berubah, saya toh masih bisa ikut tes masuk ke perguruan tinggi,'' jelasnya.
Pilihan Fahriza bisa jadi tak salah. Indah Ayu Purnamasari, lulusan SMKN 1 Bogor Jurusan Sekretaris pada 2004, kini sudah mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan swasta. Indah pun mengaku tidak sendirian. Umumnya teman seangkatannya juga sudah berpenghasilan sendiri. ''Rata-rata teman saya di SMK sudah bekerja,'' jelasnya.
Persoalan lapangan kerja di Indonesia memang menjadi salah satu faktor mengapa sebagian siswa memilih masuk ke SMK. Para siswa tersebut cenderung mencari sekolah yang bisa mempermudah untuk mencari pekerjaan. Ini juga dipengaruhi semakin tingginya biaya untuk melanjutkan kuliah.
SMA dan SMK sebenarnya tidak bisa diperbandingkan begitu saja. Sebab, keduanya memiliki keunggulan dan kelebihan masing-masing. SMK selama ini dikenal memiliki keunggulan, yaitu siswanya bisa langsung bekerja tanpa harus melanjutkan ke perguruan tinggi. Hal itu karena siswa SMK memang dipersiapkan untuk siap kerja setelah lulus sekolah.
''Selain dibekali pengetahuan sesuai dengan jurusan, siswa SMK melakukan lebih banyak praktik ketimbang siswa SMA. Otomatis pengetahuan siswa SMK mengenai pekerjaan lapangan lebih luas ketimbang siswa SMA,'' ujar Direktur Pembinaan SMK Departemen Pendidikan Nasional, Dr Joko Sutrisno.
Program pembelajaran di SMK, kata Joko, memang lebih menekankan pada pembekalan praktik jauh lebih banyak dibandingkan pembelajaran teori. Dengan program seperti ini, maka anak didik lebih terarah pada persiapan teknis menuju penguasaan teknologi terpakai di dalam kehidupan. ''Penguasaan teknologi inilah yang memungkinkan bagi anak didik untuk dapat mengembangkan diri secara maksimal,'' ujarnya.

Keterampilan modal utama
SMK melaksanakan proses pembelajaran dengan tiga aspek pembelajaran, yaitu aspek normatif, aspek adaptif, dan produktif yang secara jelas merupakan satu bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap upaya peningkatan kualitas anak didik. ''Anak didik telah mengikuti proses pembelajaran secara utuh dan tentu saja keterampilan merupakan modal paling utama bagi kehidupan masa depan mereka,'' jelas Joko.
Meski disiapkan untuk memasuki dunia kerja, kata Joko, bukan berarti bahwa lulusan SMK tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Pasalnya, dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB), siswa SMK dan SMA memiliki kesempatan sama. ''Hanya saja, dalam SPMB, siswa SMK harus memilih jurusan yang sesuai dengan jurusannya di SMK. Sedangkan, lulusan SMA dapat memilih jurusan di perguruan tinggi sesuai dengan minat dan kemampuan mereka,'' jelasnya.
Lebih jauh Joko menyatakan, dengan menekankan pada kompetensi, komunikasi, dan komputer, mutu SMK dapat ditingkatkan dan menjadi sekolah warga dunia. ''Kita harus meningkatkan mutu sumber daya manusia kita secara sistematis dan terukur, bila kita tidak mau tertinggal dengan negara-negara lain,'' tegasnya.
Tak hanya itu, kata Joko, pihaknya juga telah meluncurkan situs resmi Data Pokok SMK dengan alamat http://datapokok.ditpsmk.net. Situs ini dibangun dengan tujuan mempermudah stakeholder dan masyarakat yang berkepentingan untuk mengakses data SMK dari mana pun. ''Selain memberikan kemudahan dalam pencarian profil SMK yang diinginkan, tersedia fasilitas evaluasi data guna mengetahui status perolehan data per propinsi, per kabupaten/kota setiap tahun ajaran,'' jelasnya.
Kepala Subdinas Pendidikan Menengah Tinggi (Kasubdis Dikmenti) Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat (Disdik Jabar), Syarif Hidayat, menambahkan, tidak benar jika dibanding dengan SMA, maka SMK seolah menjadi nomor dua setelah SMA. Menurut dia, SMK ataupun SMA sama bahkan SMK pun tidak kalah kualitasnya dengan SMA. ''Kesan itu muncul dari kalangan masyarakat saja dan kita perlu menghilangkan kesan tersebut,'' ujarnya.
Untuk itu, Syarif mengungkapkan, pihaknya akan terus melakukan berbagai terobosan untuk memancing minat siswa agar bersekolah di SMK dan menjadikan SMK sebagai pilihan yang juga patut diperhitungkan. ''Sekarang kita pacu agar SMK menjadi nomor satu dan tidak kalah dari sekolah lain seperti SMA. Bahkan pemerintah saat ini terus mengembangkan supaya SMK dapat lebih banyak lagi,'' jelasnya.
Upaya lain yang dilakukan untuk meningkatkan minat siswa, kata Syarif, adalah dengan dibebaskannya SMK membuka program kejuruan yang diperkirakan mampu meningkatkan minat siswa dan akan menyerap siswa lulusan SMP. ''Sekarang SMK boleh buka program kejuruan baru yang kiranya mampu menarik minat siswa,'' katanya.
Tetapi, menurut Syarif, kebebasan ini juga tidak dilakukan sembarangan. Sekolah terlebih dahulu melihat fasilitas yang ada dan tersedia. Peningkatan minat itu terutama untuk jurusan favorit, seperti teknik komputer, teknik otomotif, teknik elektronika, teknik listrik, dan teknik informatika.
Hampir senada dengan Jawa Barat, Pemprov DKI Jakarta juga memfokuskan pendidikan dan pelatihan di SMK. Kebijakan ini untuk menekan angka pengangguran. Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi DKI Jakarta, Margani M Mustar, mengatakan, sejumlah kebijakan akan dilakukan pada 2008 untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan lulusan SMK.
Kebijakan itu antara lain menambah jumlah SMK serta meningkatkan sarana belajar di sekolah kejuruan tersebut. ''Kebijakan ini dimaksudkan untuk memudahkan lulusan SMK mendapatkan pekerjaan sehingga otomatis mampu mengurangi jumlah pengangguran di Ibu Kota,'' ujarnya.
Guna menyerap calon siswa untuk masuk di SMK, khususnya dari kalangan keluarga miskin (gakin), Margani menuturkan pihaknya memberikan beasiswa. Siswa penerima beasiswa didorong setiap tahun mengalami pertambahan. ''Pada 2007 penerima beasiswa dari komponen siswa SMK berjumlah 23 ribu siswa. Tahun ini akan kita tingkatkan jumlahnya,'' ujar Margani.
Selain di wilayah Jakarta yang komposisi gedung SMK dengan gedung SMA mencapai 60:40 persen, Dikmenti mendorong pembangunan gedung SMK akan terus ditambah. Persentase tersebut lebih tinggi dibanding yang sudah dilakukan Departemen Pendidikan Nasional.

Iming-iming Kerja
Benarkah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saat ini makin diminati para siswa? Jawabannya bisa jadi iya. Wakil Kepala SMK Negeri 2 Yogyakarta, Mulyono mengungkapkan, minat siswa masuk ke SMK memang cenderung meningkat dari tahun ke tahun. ''Kami bahkan harus menetapkan kebijakan siswa yang tak naik ke kelas II harus keluar supaya tempatnya bisa terisi siswa baru,'' ujar Mulyono
SMKN 2 Yogyakarta memiliki 20 kelas untuk tiap jenjang sehingga total ada 60 kelas. Tiap kelas selalu penuh terisi 36 siswa. Beberapa siswa yang dikeluarkan karena tidak naik kelas, tak jarang juga kembali mendaftar ketika pendaftaran siswa baru kembali dibuka.
Cepat mendapatkan pekerjaan menurut Kepala SMKN 1 Jakarta Djoko Prihanto, menjadi alasan utama minat para siswa masuk ke sebuah SMK. Ia mengaku, sebagian lulusan dari SMKN 1 memang mudah mendapatkan pekerjaan di perusahaan swasta. ''Bahkan banyak juga yang membuka usaha sendiri,'' ujarnya.
Djoko yang menambahkan SMKN 1 yang membuka lima jurusan, yakni otomotif, bangunan, listrik, mesin, dan komputer jaringan, beberapa kali didatangi perusahaan yang memesan calon karyawan ke sekolah. Namun, dia mengakui perusahaan yang semacam itu memang masih bisa dihitung dengan jari tangan.
Djoko mengungkapkan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dalam beberapa tahun belakangan ini lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) yang masuk SMK Negeri 1 ini terus menunjukkan peningkatan. ''Lumayan baik dari tahun ke tahun,'' cetusnya.
Sukmayati, Kepala SMKN 28 Jakarta yang memiliki dua jurusan, yakni perhotelan dan pekerja sosial, menambahkan, peningkatan jumlah peminat kadang membuat sejumlah calon siswa tidak tertampung karena keterbatasan tempat. ''Di jurusan perhotelan selalu lebih peminat, sehingga terpaksa ada yang ditolak,'' ungkapnya.
Jurusan perhotelan, menurut Sukmayati, memang lebih banyak diminati calon siswa. Dia memperkirakan tingginya peminat ke jurusan ini karena anak didik merasa lebih mudah mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Bahkan, biasanya mereka pun bisa memperoleh kesempatan magang bekerja di luar negeri.
Peningkatan calon siswa yang masuk ke SMK dari tahun ke tahun belakangan ini juga dibenarkan oleh Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Suyanto. Kecenderungan tersebut, menurut Suyanto, seiring dengan kebijakan pemerintah yang memfokuskan menambahan SMK pada jenjang pendidikan menengah atas. Suyanto menyebutkan sekitar 65 persen dari sekitar 3,1 juta siswa lulusan SMP tahun 2006 melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah atas, sebanyak 827 ribu anak atau 35 persen memilih masuk ke SMK.
Dengan perkiraan tingkat kenaikan siswa SMP yang melanjutkan pendidikan ke SMA sebesar dua persen pertahun, Suyanto memprediksi tahun 2008 lulusan SMP yang memilih masuk ke SMK mencapai lebih dari satu juta anak

Republika, 6 Februari 2008


 
 
   
 
 
Powered By Sakamitra